September 2006 pertama kali saya melewati jembatan besi yang melintang di atas jalan A. Yani tepat di depan kampus UINSA. Selama satu bulan jembatan itu selalu ku lewati hampir setiap pagi menuju kampus pencetak guru Universitas Negeri Surabaya. Tidak ada yang berubah dengan jembatan itu. Bedanya adalah dulu saya melewati jembatan itu dari UINSA menuju UNESA, sekarang kebalikannya saya melewati jembatan itu dari UNESA ke UINSA. Sepuluh tahun yang lalu saya pernah tinggal di Masjid di belakang kampus UINSA padahal kuliah saya di UNESA. Memang dari UINSA menuju UNESA lumayan jauh dan itu saya tempuh dengan berjalan kaki. Maklumlah karena ngirit uang saku dan lagi pula saya kuliah di Surabaya tidak membawa motor jadi kemana-mana harus berjalan kaki.
Kenapa saya tinggal di masjid sekitar UINSA? padahal kuliah saya waktu itu di UNESA. Ceritanya begini. Saat lulus Madrasah Aliyah di kampung saya tiba-tiba keinginan untuk melanjutkan studi S1 muncul dalam hati saya. Meski saat itu keinginan kuliah sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari orang tua saya khususnya babe saya karena babe punya keinginan selepas SMA berbisnis saja wong saya SMA ndak pinter-pinter amat lagi pula saya pindah sekolah sana sini mulai MAN Laongan, SMAN 1 Sekaran, MA Ihyaul Ulum, SMA 45 Babat dan terakhir saya kembali ke MA Ihyaul Ulum yang waktu itu ketua yayasannya adalah Pakde Saya. Sebuah alasan yang cukup rasional bagi babe saya untuk tidak diijinkan kuliah. Waktu itu almarhum babe H. Syukur (Allahumma Ighfirlahu warhamhu waafihi wakfuanhu) mempunyai pandangan bahwa tidak mungkin saya bisa menyelesaikan kuliah. Beliau berkaya "Kowe SMA pindah-pindah ae, opo kuliah engko yo mbok gae dulinan?timbang kuliah mending belajar bisnis wae". Namun saya masih tetap punya keinginan kekeh bahwa Allah maha membolak balik hati manusia, siapa tahu dengan kuliah saya bisa berubah?. Babe selalu mengajarkan kepada anak-anaknya begini "Anak e kaji Syukur kudu wani nekat, kudu kendel (anaknya H. Syukur harus berani). Sekedar tau saudara saya sebelas orang pas untuk membuat kesebelasan sepak bola. Kami terbiasa dengan didikan babe yang amat sangat keras ala militer. Namun sedikitpun saya tidak pernah menyesal menjadi anaknya. Akhirnya saya tetap memutuskan untuk kuliah dan babe tetep kekeh melarang kuliah dan pada akhirnya terjadi kesepakatan kalau saya kuliah harus membayar sendiri "Lak kowe mekso kuliah Mbayaro dewe". Oke fiks saya suka tantangan itu. Ternyata naluri seorang ibu tidak tega melihat anaknya susah. Saya bangga dilahirkan dari rahim ibunda Hj. Khoiriyyah (semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan). Ibu saya secara diam-diam mengijinkan saya kuliah. Pesan beliau kuliah dimana saja boleh asalkan jurusan guru.
Perjalanan saya dari ketika saya mendaftar PMDK (sekarang SNMPTN) saya mengambil jurusan sastra Indonesia. Kampus yang menjadi jujukan saya saat itu adalah UI dan UNESA. Saya di UI selesai di seleksi administrasi sementara di UNESA saya sampai tes wawancara saja. Seorang anak desa yang nekat, SMA pindah sana-sini wani daftar PMDK. Jujur saja saya saat itu tidak tahu menahu soal PMDK itu apa setahu saya PMDK itu jalur masuk kuliah gitu aja. Gagal PMDK tidak membuat saya patah semangat. Saya kembali mengikuti seleksi SPMB (Sekarang SBMPTN) kali ini jurusan dan kampus tujuan berbeda.
Bersambung dulu coy......
Bersambung dulu coy......
Komentar
Posting Komentar