#SAYA PERNAH GAGAL
Jadwal ngajar hari ini hanya pagi. Setelah dhuhur saya mengerjakan SPJ penelitian mandiri yang didanai fakultas. Judul penelitian mandiri tahun ini adalah "Implementasi Nilai-nilai Syariah Pada Pedagang Pasar Tradisional" lokasi penelitian ini di Pasar Wonokromo. Penelitian ini diketuai oleh pak kajur saya. biasanya sama memanggilpak Coy. Sebenarnya SPJ tersebut sudah deadine. Batas akhir SPJ adalah dua minggu setelah SPK. ini namanya mah sudah kelewat batas nemen. Kegiatan hari ini memang sudah saya rencanakan dari rumah. Saya membawa printer dari rumah beserta kelengkapan lainnya. Ditengah-tengah SPJ saya merasa kebingungan karena biasanya SPJ untuk penelitian berbeda dengan SPJ untuk kegiatan pada umumnya. Tahun 2015 kemaren alhamdulillah proposal saya juga dibiayai dan SPJ diberikan pada saat penyerahan laporan kemajuan atau laporan akhir. Tapi apa boleh buat aturan keuangan negara memang seringkali berubah-ubah. Mau ndak mau, suka ndak suka SPJ ini harus selesai sesuai ketentuan yang berlaku. Maka saya pun berusaha menyelesaikan secepatnya supaya tidak mengganggu mekanisme pencairan kegiatan lembaga yang lainnya.
Sebenarnya tulisan saya ini tidak membahas SPJ. Saya ingin menganalisis kenapa tulisan yang saya kirim kemarin pada koran jawa pos tidak dimuat. Karena saya mengingatnya ditengah2 ngerjakan SPJ ya sudahlah sekalian saya tulis cerita per-SPJ-an
Ceritanya berawal dari Tulisan saya pada hari rabu pekan lalu tepatnya tanggal 31 Agustus 2016. Entah ada angin apa tiba-tiba saya ingin menulis opini. Saya mulai dari mempelajari persyaratan hingga menyiapkan syarat administrasi yang harus dilengkapi ketika handak mengirim opini. Setelah semua siap mulailah saya menulis opini. Isu yang saya angkat saya sesuaikan dengan latar belakang pendidikan saya. Sebagai pengajar pada program studi Ekonomi Islam Unesa, topik yang saya angkat adalah tentang Zakat dan Kesejahteraan. Singkatnya saya ingin menyampaikan bahwa bagaimana kita bisa sejahtera dengan Zakat ditengah-tengah APBN yang semakin defisit. Beberapa data saya sajikan untuk memperkuat opini tulisan tersebut.
Dalam pedoman penulisan opini di koran jawa pos saya melihat satu klausul bahwa jika selama lima hari opini ndak dimuat berarti dianggap kembali kepada penulis. Saya pun harap harap cemas serta berdoa semoga opini saya dimuat. Setiap pagi saya rutin menunggu tukang loper koran yang biasanya mengantar koran dirumah. Jika sudah dikirim saya pastikan bahwa halaman yang saya baca adalah kolom opini. Rasanya tiap kali buka halaman tersebut hati berdebar kencang bak orang jatuh cinta yang ketemu dengan si Doi. Aktivitas tersebut saya lakukan setiap pagi sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Setelah lima hari opini saya ndak nongol juga berarti pupus sudah harapan itu. Oke fiks opini saya ndak dimuat. Saya harus kerja lebih keras lagi.
Jujur setelah saya evaluasi ternyata opini saya kalah dengan "Mukidi, Virus Zika, Burkini Vs Bikini, Lawatan Jokowi ke Tiongkok dan yang terakhir adalah Predator Seksual". Itulah deretan isu-isu yang di muat dalam opini JP selama lima hari terakhir. Setelah saya amati tulisan-tulisan tersebut setidaknya ada beberapa hal yang tidak ada dalam tulisan saya. Selain itu pemikiran saya belum bisa menyatu dengan tulisan saya. Artinya, antara isi hati dan tulisan tidak sama. Memang susah sih menyamakan frekwensi itu. Selain itu pilihan kosa kata yang saya gunakan kurang pas menggambarkan situasi yang sebenarnya. Maklum sih karena penulis pemula.
Saya akhirnya meyakini bahwa para penulis opini di JP yang tulisannya sering dimuat dulunya juga pasti pernah mengalami seperti saya. Ya sakitnya rasanya ditolak redaksi. Lebih sakit dari pada ditolak wanita hahahha... Namun dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah akhirnya sekarang mereka sering nongol di kolom opini JP. Hampir bisa saya pastikan penulis opini JP orang-orang itu aja dan hampir tiap bulan nongol sekali bahkan ada yang lebih dari sekali. Memang mereka layak dan pantas menyandang gelar pendekar opini karena tulisannya enak dan gayeng saat dibaca.
Akhirnya, Saya Pasti Bisa Seperti Mereka Karena Biasa
#Yakusa
#Yakusa
R.Dosen G9
06 September 2016
06 September 2016
Komentar
Posting Komentar